Kota Tua Jakarta, atau dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), Terletak di Jakarta Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibu kota Jakarta 11110 ndonesia.
Wilayah ini memiliki lapang 1,3 kilometer persegi dan Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada tahun ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan bagi benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.
Mesin Waktu Kembali ke masa kolonial. Ketika memasuki kota tua jakarta atau Batavia suasana terasa kembali ke masa lampau di mana kiri dan kanan disuguhi oleh gedung-gedung VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang masih berdiri kokoh, dan meriam-meriam besar terpanjang menambah suasana era kolonial VOC.
Gedung-gedung De Oude Stadhuis berfungsi sebagai stadhuis atau balai kota, pusat administrasi, catatan sipil, pengadilan dan juga pusat peribadatan pada masa Hindia Belanda (VOC) dan kini menjadi suatu museum yang menyimpan barang peninggalan dari masa prasejarah, penjajahan, hingga masa sekarang.
Di salah satu gedung kota tua (Batavia) musium Fatahillah di antara ruangan lantai dua tersebut terdapat "pedang keadilan". Pedang yang panjangnya sekitar 1 meter sebagai saksi sejarah pedang pemenggalan kepala pada masa itu.
Dan diantaranya Galgenveld atau Lapangan Tiang Gantungan merupakan tempat eksekusi. Sebelum eksekusi berlangsung pihak pengadilan lebih dulu mengajak rakyat beramai-ramai menyaksikannya di Galgenveld.
Sejarah Kota Tua Jakarta (Batavia) Laksamana Cirebon , Fatahillah, Fadhillah Khan, atau Falatehan dikirim oleh Kesultanan Demak menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian diganti nama Jayakarta. Pada tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Selang setahun kemudian VOC membangun kota baru bernama Batavia bagi menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda.
Tahun 1635, kota ini meluas sampai tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini didesain dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Kota Batavia berkesudahan dibangun tahun 1650. Batavia akhir menjadi kantor pusat VOC di Hindia Belanda. Kanal-kanal diisikan karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia akhir menjadi pusat administratif Hindia Belanda Timur. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berubah nama menjadi Jakarta dan sedang memerankan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.
Berapa tempat dan gedung di kota Tua (Batavia) Gedung Arsip Nasional,Gedung Chandranaya, Vihara Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti), Petak Sembilan,Pecinan Glodok dan Pinangsia, Gereja Sion,Tugu Jam Kota Tua Jakarta, Stasiun Jakarta Kota, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Standard-Chartered Bank, Kota's Pub,bVG Pub Kota, Toko Merah, Cafe Batavia, Museum Sejarah Jakartaatau Museum Fatahillah(bekas Balai Kota Batavia), Museum Seni Rupa dan Keramik (bekas Pengadilan Batavia), Lapangan Fatahillah, Replika Sumur Batavia, Museum Wayang, Kali Akbar (Grootegracht), Hotel Former, Nieuws van de Dag, Gedung Dasaad Musin, Jembatan Tarik Kota Intan, Galangan VOC, Menara Syahbandar, Museum Bahari, Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa, Masjid Barang Luar
Beberapa bangunan atau tempat yang berada di daerah kota Tua Jakarta dihancurkan dengan gagasan tertentu.
•Benteng Batavia dihancurkan selang 1890–1910, beberapa materiil digunakan bagi pembangunan Istana Daendels (sekarang Departemen Keuangan Nasional)
•Gerbang Amsterdam (lokasinya berada dipertigaan Jalan Cengkeh, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Timur. Dihancurkan bagi memperlebar akses jalan) dihancurkan pada tahun 1950an bagi penglebaran jalan
•Jalur Trem Batavia (Jalur ini pernah mempunyai di kota Batavia, tetapi sekarang sudah ditimbun dengan aspal. Karena Presiden Soekarno menganggap Trem Bataviayang membuat macet.









0 Komentar