Tata cara khutbah Jumat perlu dipahami oleh pria muslim. Sebab, sebelum melaksanakan sholat Jumat akan dilaksanakan khutbah terlebih dahulu.
Salah satu syarat sah pelaksanaan sholat Jumat didahului oleh dua khutbah. Artinya, khutbah pertama dan kedua dipisah dengan duduk.
Dalam Kamu Besar Bahasa Indonesia (KBBI), khutbah artinya pidato (terutama yang menguraikan tentang agama). Istilah khutbah di masyarakat cenderung diartikan sebagai pidato agama.
Mengutip dari Buku Panduan Khutbah Jumat untuk Pemula tulisan Irfan Maulana, khutbah artinya seni pembicaraan kepada khalayak yang di dalamnya terdapat suatu pesan.
Khutbah Jumat nantinya disampaikan oleh khatib, seseorang yang bertugas menyampaikan khutbah ketika sholat Jumat. Seorang khatib harus bisa memberikan nasehat, peringatan, hingga ajaran-ajaran mengenai Islam kepada jemaah sholat Jumat.
Dengan demikian, seorang khatib harus memahami tata cara khutbah Jumat. Terlebih, khutbah Jumat termasuk ke dalam rukun sholat Jumat.
Tata Cara/Urutan Khutbah.
•Dalam melaksanakan khutbah Jumat harus mengikuti rukun khutbah. Bilamana salah satu rukun itu tidak terpenuhi, maka akan membuat khutbah itu rusak atau tidak sah.
• khutbah Jumat terdiri dari dua bagian. Yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua, keduanya dipisahkan dengan duduk di antara dua khutbah.
•Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa khutbah Jumat itu dilakukan sebelum shalat Jumat. Berbeda dengan khutbah Idul fitri atau Idul Adha yang dilakukan setelah selesai sholat id.
URUTAN KHUTBAH JUMAT
Salam > duduk saat azan dikumandangkan > Khutbah Pertama > Duduk diantara dua khutbah > Khutbah Kedua
RUKUN KHUTBAH
1. Tahmid (hamdalah)
2. Sholawat nabi
3. Wasiat taqwa
4. Membaca ayat quran
5. Doa di khutbah kedua
Contoh Materi Khutbah.
Khutbah I
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّهِ وَ بَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
أَمَّا بَعْدُ
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Innal hamda lillāhi nahmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruhu, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi-āti a’mālina. Man yahdihillāhu falā mudhilla lahu waman yudhlil falā hādiya lahu. Asyhadu anlā ilāha illallāhu wahdahu lā syarīka lahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasūluhu.
Allahumma shalli ‘alā muhammadin wa ‘alā āli muhammadin kamā shallaita ‘alā ibrāhīma wa ‘alā āli ibrāhīma, innaka hamīdum majīd. Wa bārik ‘alā muhammadin wa ‘alā āli muhammadin kamā bārakta ‘alā ibrāhīma wa ‘alā āli
‘Ibādallāh, ūshīkum wa nafsī bitaqwallāhi ‘azza wajalla haitsu qāla tabāraka wata’āla, a’ūdzubillāhi minasy syaithānirrajīm, yā-ayyuhalladzīna āmanūt taqullāha haqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn Amma ba’du
Hadirin yang Dimuliakan Allah SWT.
Barangsiapa yang pada siang hari ini melangkahkan kakinya ke tempat ini, di rumahnya ada masalah dengan orang tuanya, masalah dengan putra-putrinya semoga Allah SWT mengembalikan ketenangan – kehangatan dan kebahagiaan dalam rumah tersebut.
Barangsiapa yang pada siang hari ini melangkahkan kakinya ke tempat ini, ada masalah di sekolahnya, masalah di tempat kerjanya, berselisih paham dengan sahabatnya semoga Allah SWT mengembalikan kenyamanan dalam lingkungannya tersebut.
Barangsiapa yang pada siang hari ini melangkahkan kakinya ke tempat ini, ada saudaranya yang sedang sakit, ada keluarganya yang sedang dirundung duka karena ada yang meninggal semoga Allah SWT lekas menurunkan kesembuhan serta penenangan dan permaafan batin kepadanya. Aamiin.
Hadirin yang Jamaah Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah SWT
Segala puji hanyalah milik Allah SWT, Rahmat-Nya menghujani kita dengan berbagai kenikmatan yang tidak terhitung. Oleh karena itu mari kita semakin giat meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Allah SWT menuju Taqwa yang secara paripurna teraktualisasi dalam laku sehari-hari dan menyercap menyejukkan dalam batin sanubari. Shalawat dan Salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, Kepada keluarganya, para sahabatnya dan semoga sampai kepada kita selaku umatnya. Aamiin.
Hadirin siding Jum’at yang Dirahmati Allah SWT
Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri seorang sufi besar dalam salah satu kitab yang ditulisnya al-Mawa’izh al-‘Ushfuriyah mengetengahkan hikayat tentang Nabi Musa a.s. Pada suatu ketika Nabi Musa a.s. bermunajat dengan nada pertanyaan kepada Allah SWT, beliau berkata “Ya Allah, Engkau telah menciptakan makhluk, dan engkau telah merawatnya dengan nikmat-Mu serta rizki-Mu, kemudian Engkau menjadikan mereka (ada yang) di neraka-Mu”?!.
Nabi Musa a.s. tampak merenung melihat realitas kehidupan bahwa kita diciptakan kemudian dibesarkan dengan nikmat Allah SWT, akan tetapi di akhirnya tiap-tiap akan terbagi ke dalam dua tempat; ada yang masuk ke dalam surga dengan limpahan kenikmatan namun ada juga yang masuk ke dalam neraka yang dijamu dengan berbagai siksa yang amat pedih.
Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa a.s. “Wahai Musa, bercocok tanamlah kamu!”. Mendapat wahyu untuk bercocok tanam akhirnya Nabi Musa a.s. pergi ke ladang dan mulai menanam berbagai tanaman yang bisa ditanam di ladang tersbut. Selama beberapa pekan Nabi Musa a.s. menyirami dan memeliharanya hingga tiba masa di mana tanaman itu dipanen.
Tatkala musim panen itu tiba, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa a.s. “Wahai Musa, Apa yang telah kamu lakukan pada tanaman-tanamanmumu?”. Lalu beliau menjawab “Aku telah memanennya”. Allah SWT berfirman lagi,“Tidak adalah yang kau tinggalkan dari hasil panenmu?”.
Nabi Musa a.s. menjawab “Wahai Tuhanku, aku tidak meninggalkan kecuali tanaman-tanaman yang tidak baik”.
Selanjutnya Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku pun demikian, Aku akan memasukkan orang yang baik ke dalam surga dan memasukkan orang yang tidak ada kebaikan di dalam diri mereka ke neraka”. Dalam redaksi lanjutannya Nabi Musa a.s. bertanya “Siapakah dia ya Allah?”. Allah SWT menjawab “Orang yang enggan mengucap Laa Ilaaha Illalloh Muhammadur Rosululloh”.
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT
Kisah tentang Nabi Musa a.s. tadi hendaknya menjadi partikel yang menggugah kembali kesadaaran kita sebagai hamba. Bahwa di ujung perjalanan hidup ini ada dua jalan yang bisa kita pilih, jalan lurus yang masuk ke dalam surga atau jalan lurus yang mengantarkan kita ke dalam neraka. Meskipun secara normatif pilihan kita semuanya adalah ke surga yang terang itu, akan tetapi yang menggerakkan dan menarik kita adalah segala laku dan tingkah yang diperbuat ketika di dunia.
Ketidak-patuhan kita pada kebaikan dan tindakan kita yang sewenang-wenang pada sesama serta lebih berambisi pada hal yang bersifat duniawi ketimbang ukhrawi maka itu yang akan memperkuat gaya tarik neraka terhadap kita.
Sebaliknya, bila hidup yang sementara ini dihiasi dengan laku-laku kebaikan, senantiasa menanamkan kedamaian di sekitar lingkungan tempat kita tinggal, melarutkan diri dalam lautan khusuk dan khauf ketika beribadah serta tidak tergiur membabi buta dengan kehidupan duniawi maka gaya tarik dari surga pada dirinya akan semakin menguat.
Allah SWT berfirman:
فَأَمَّا مَنْ طَغَى (۳۷) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (۳۸) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (۳۹) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (۴۰) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (۴۱). النازعات: ۳۷-۴۱
Artinya: Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q.S. An-Nazi’at: 37-40)
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT
Dipenghujung khutbah ini saya menutup uraian dengan mengutip satu kata bijak dari seorang ulama besar Indonesia sekligus penulis dan sastrawan Buya Hamka. Buya yang telah menulis tafsir Al-Azhar sebanyak 30 Jilid itu mengatakan bahwa Kehidupan itu laksana lautan. Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, maka karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang di tengah samudera yang luas. Tiada akan tercapai olehnya tanah tepi. Saya katakana bahwa kemudi dan layar itu adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang pada keduanya kita berkiblat laku.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Barokallohu liwalakum filquranil adzim, wanafaani waiyyakumbimaafiihi minal ayati wadzikril hakim, wataqobbalahu minniwaminkum tilawatahu innahu huwassamii’ul’alim. Aquulu qoulihadza astaghfirullooha innahu huwal ghofurorrohiim.
Khotbah II.
الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ، فَقَالَ فِيْ مُحْكَمِ التَّنْزِيْلِ: إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ َقضَوْا بِالحَقِّ وَبِهِ كَانُوْا يَعْدِلُوْنَ: أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.
أَعَانَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَى حُسْنِ الصِيَّامِ، وَحُسْنِ الْقِيَامِ، وَحُسْنِ الذِّكْرِ لِلْمَلِكِ العَلَّامِ، وَأَصْلِحِ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَنَا أَجْمَعِيْنَ شَأْنَنَا كُلَهُ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ اللَّهُمَّ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا رَخَاءً وَسَائِرَ بلِاَدِ المُسْلِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ المُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانِ، اللَّهُمَّ رُدَّهُمْ إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيْلاً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
Alhamdulillāhi ‘alā ihsānihi, wasy syukru lahu ‘alā taufīqihi wa imtinānihi. Wa asyhadu allā ilāha illallāhu wahdahu lā syarīka lahu ta’dzīman li sya’nihi. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasūluhu. Shallallāhu ‘alaihi wa ‘alā ālihi wa ashhābihi wa sallama taslīman mazīdan.
‘ibādallāh, ‘ūshīkum wa nafsī bitaqwallāhi ‘azza wajalla, haitsu qāla tabāraka wa ta’ālā, a’ūdzu billāhi minasy syaithānir rajīm, yā-ayyuhalladzīna āmanūt taqullāha haqqa tuqātihi wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūna.
Tsumma i’lamū annallāha amarakum bish shalāti was salāmi ‘alā nabiyyihi, fa qāla fī muhkamit tanzīli, innallāha wa malā-ikatahu yushallūna ‘alan nabiy, yā-ayyuhalladzīna āmanū shallū ‘alaihi wasallimū taslīman,
Allahumma shalli ‘alā nabiyyinā muhammadid, wardhallāhumma ‘an khulafā-ihir rasyidīna alladzīna qadhau bil haqqi wa bihi kānū ya’dilūna, Abī Bakri wa ‘Umara, wa ‘Utsmāna, wa ‘Aliyyin, wa ‘an sā-irish shahābati ajma’īna, wa ‘annā ma’ahum bijūdika wa karamika yā akramal akramīna.
A’ānanāllāhu wa iyyākum ‘alā husnish shiyāmi, wa husnil qiyāmi, wa husnidz dzikri lil malikil ‘allāmi, wa ashlihillāhu tabāraka wa ta’ālā lanā ajma’ina sya’nanā kullahu.
Allahumma a’izzal islāma wal muslimīna, wa adzillasy syirka wal musyrikīna, wa dammir a’dā-ad dīna, waj’alillāhumma hadzal bilāda āminan muthma-innan rakhā-an wa sā-ira bilādil muslimīna.
Allahumma ashlih ahwālal muslimīna fī kulli makānin, allahumma ruddahum ilaika raddan jamīlan.
Rabbanā ātinā fid dunyā hasanatan, wa qinā ‘azāban nāri,
Rabbanā zalamnā anfusanā wa illam taghfir lanā wa tarhamnā lanakūnanna minal khāsirīna.
‘ibādallāhi, innallāha ya’muru bil ‘adli wal ihsāni wa ītā-i dzil qurbā wa yanhā ‘anil fahsyā-i wal munkari wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarūna.
Wadzkurullāhal ‘adzīmal jalīla yadzkur kum. Wa aqimish shalata.
Demikian penjelasan tatacara Khutbah Jum'at semoga sahabat yang ingin belajar di mudah oleh Allah dalam mendapatkan ilmu nya Amin Ya Rabbal Alamin.

0 Komentar