FOOD ESTATE (LUMBUNG PANGAN/LIMBUNG PANGAN)

 

FOOD ESTATE

(LUMBUNG PANGAN/LIMBUNG PANGAN)



Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui kementrian pertanian Indonesia optimis menuju lumbung pangan dunia tahun 2024 (World food storage) salah satunya dengan kebijakan Food Estate atau lumbung pangan terpusat, Idenya terdengar baik tapi proyek ini bukan menciptakan swasembada pangan tetapi beras, Pangan orang indonesia bukan hanya beras ada sagu, ubi, jagung, sorgum atau cantel.

Pada tahun 1970-an Pemerintah oder baru meggalakan pertanian padi setelah ditemukan bibit unggul, pupuk ataun obat anti hama yang menjadikan bagian Revolusi Pertanian atau yang dikenal dengan Revolusi Hijau sejak itu Politik pangan indonesia hanya di arahkan hanya pada beras, Mengosumsi beras dianggap memiliki status sosil lebih tinggi dari pada pangan lain, Padahal tak semua daerah cocok untuk membuka sawah atau kalaupun cocok masyarakatnya belum tentu mempunyai budaya bersawa sebab budaya bersawa tidak muncul begitu saja semuda mencetak sawa atau membangun saluran irigasi, Di luar jawa sawa atau lahan pertanian bayak di cetak oleh para transmigran dari jawa dan bali, Dengan bertambah nya penduduk menyeragamkan pangan dalam bentuk beras justru menjadi bumerang bagi pemerintahan oder baru sendiri hingga akhirnya terpaksa mencetak sawa 1 Juta hektar di lahan gambut lewat keputusan presiden suharto tahun 1995, Tapi proyek ini akhirnya gagal selain krisis moniter 1998 tidak proyek ini tidak di dasarkan kajian lingkungan dan perhitungan teknis yang baik bendungan dan saluran induk ini justru membuat kering kawasan lahan gambut di sekitarnya dan gambut yang kering mudah memicu kebakaran. Kalaupun semua perhitungan berjalan baik konsep lumbung pangan sekala besar jutan hektar ini terlalu mahal terutama karna mengorbankan hutan dan seluru ekositem serta keanekaragaman hayati itu belum termasuk kebudayan dan sistem sosial masyarakat di sekitarnya.



Tapi konsep Food Estate atau lumbung pangan yang salah kaprah justru di ulang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. Konsep Food Estate mengandalkan produksi masal dengan modal besar yang hanya bisa dilakukan perusaan bukan sawa rakyat. Jika Suharto di kalimantan SBY dan Jokowi mengincar Merauke di Papua.

Seperti hal nya Suharto proyek Food Estate Presiden Joko Widodo di Marauke gagal, Presiden Joko Widodo sendiri tidak perna kembali ke Merauke untuk panen perdana di sawah sejuta hektar nya, Sawah ini bukan dari era SBY atau Jokowi melainkan di cetak pemerintahan belanda pada tahun 1950 lewat proyek padi Kombe Rijstprojectn butuh 60 tahun untuk mencetak sawah sekitar 40.000 hektar di merauke salah satu faktornya karna orang papua tidak memiliki budaya menanam padi Para petani di sawa ini adalah transmigran dari jawa, tapi sepertinya Presidan demi presiden tak ada yang mau belajar maski telah gagal di papua pemerintahan Jokowi akan mengulang ide Food Estate di kalimantan tengah, Lantas milik siapa sawah-sawah ini nantinya seperti halnya rencana di merauke yang gagal sawah ini pun akan dikelolah oleh BUMN atau mengandeng inpetasi perusaan maka sekali lagi ini tidak ada kaitanya dengan pertanian rakyat mereka yang berkerja di Food Estate tampaknya hanya sebagai buru tani bukan pemilik tanah apa lagi berdaulat atas hasil panennya, Lumbung pangan yang terpusat dengan mengorbankan keragman hasil alam yang lain seperti hutan dan seisinya ibarat sebuaha perjudian yang mempertarukan segalanya di atas satu meja.

Produksi pangan seharusnya di kelolah oleh masing-masing komunitas masyarakatan dan tidak terpusat pada satu lokasi apalagi satu jenis pangan karna di konumsi sehari-hari produksi pangan seharusnya dekat dengan konsumennya tampa memerlukan angkutan, Produksi pangan sejenis dan terpusat justru meningkatkan rawan pangan baik akibat gagal panen serentak, masala politik dan keamanan hingga cuaca buruk yang membuat pengangkutan pangan terganggu

Dalam seperempat abat ini seluru program Food Estate Indonesia gagal impor pangan Indonesia semakin lama semakin tinggi dalam sepuluh tahun terakhir saja kalau di lihat dari tahun 2008-2018 dari 8 komonitas impor indonesia melonjak 20 juta ton dan kalau ini tidak ditangani inpor pangan indonesi semakin lama semakin tinggi.

Posting Komentar

0 Komentar