Judul Buku: Bung Karno Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia
Judul Asli: Sukarno
An Autobiography As Told To Cindy Adams
Ahli Bahasa/Edisi Revisi: Syamsul Hadi
Terbit: Cetakan Kelima, 2018
Penerbit: Yayasan Bung Karno Penerbit Media
Pressindo
Distributor: PT. Buku Seru
Halaman: 415
Harga Buku: 120.000,00
Isi Buku Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat
Indonesia
Kata Sukarno pada Bab pertama buku ini :
“Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap
orang suka kepadaku. Harapanku hanyalah, agar dapat menambah pengertian yang
lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik
terhadap Indonesia tercinta.”
Buku yang berjudul “Bung Karno Penyambung
Lidah Rakyat Indonesia” adalah otobiografi dari presiden pertama Republik Indonesia,
Sukarno, yang terbit pertama kali pada tahun 1966. Buku ini adalah terjemahan
dari buku yang berjudul “Sukarno: An Autobiography as toldto Cindy Adams”.
Pertama kali diterbtikan oleh The Bobbs-Merrill Company, Inc, New York, pada
tahun 1965. Dan telah dicetak berulang kali.
Penulis buku ini adalah Cindy Adams,
seorang wartawan perempuan yang berasal dari Amerika. Ia kebetulan berada di
Jakarta bersama suaminya, pelawak Joey Adams, yang memimpin Misi Kesenian
Presiden Kennedy ke Asia Tenggara tahun 1961. Sukarno memiliki kesan tersendiri
pada Cindy Adams, “dia adalah penulis tercantik yang pernah kutemui!” Karena
Cindy Adams pula, Sukarno berkenan menuliskan riwayat hidupnya – setelah sekian
lama sulit sekali untuk dibujuk.
Ya, sulit membujuk Sukarno untuk mau
menulis buku biografinya. Inilah yang dirasakan oleh Duta Besar Amerika di
Indonesia, Howard Jones. Pada suatu hari, saat Howard dan istrinya sedang makan
bersama Sukarno dan Hartini (Istri Sukarno) di bungalow Istana Bogor, Howard
mengatakan, “Tuan Presiden, aku kira sudah waktunya Anda melihat kembali
perjalanan sejarah. Menurutku sudah waktunya Anda menuliskan sejarah kehidupan
Anda.” Dan seperti biasa, pertanyan serupa itu sering ditanyakan kepada
Sukarno, ia menjawab, “Tidak. Insya Allah, aku masih hidup 10 atau 20 tahun
lagi.”
Bab I. Alasan Menulis Bab Ini
Mungkin
Anda pernah mendengar pro dan kontra mengenai Sukarno. Di sebagian akhir
kepemimpinanya, ada yang mengatakan Sukarno dibenci oleh rakyat Indonesia.
Sebagian lainnya mengatakan mencintai Sukarno. Di bab inilah berisi pandangan
Sukarno mengenai hal tersebut. Ada juga pengakuan dari Sukarno yang menyukai
wanita dan mengapa ia seperti itu. Saya yakin Anda akan terkejut karenanya. Selain
itu, diceritakan mengapa Sukarno menyukai negara-negara blog timur. Kisahnya
bersama John F. Kennedy, dan media-media asing yang menjelek-jelekan namanya.
Dan yang
terpenting, meskipun Sukarno selalu menolak jika ada yang mengusulkan biografi
dirinya, pada akhirnya ia bertemu dengan Cindy Adams dan tertarik untuk menulis
kisah hidupnya. Di bab ini, saya merasa terharu dengan kisah Sukarno.
Bab II. Putra Sang Fajar
Sukarno
lahir ketika fajar menyingsing dan ditakdirkan menjadi pemimpin. Ada semacam
gurauan di bab ini mengenai kelahiran Sukarno ke dunia ini. Lalu tentang
leluhur Sukarno yang juga pejuang, yang terlibat dengan Belanda sejak penjajah
datang ke Indonesia. Juga dikisahkan bagaimana orang tua Sukarno bertemu.
Bagian ini, saya mulai sedikit mengenal sejarah keluarga bapak Proklamator
Indonesia ini.
Di bab
ini, saya mencari kesamaan Sukarno dengan saya ha ha ha…. Dan tidak
menemukannya. Juga terkejut dengan fakta-fakta siapa sebenarnya orang tua
Sukarno.
Bab III. Kesedihan di Masa Muda
Sukarno
hidup dalam kemiskinan. Masa kecilnya cukup menyedihkan, sampai-sampai ia tidak
bisa membeli mercon seperti teman-temannya dan menangis dan protes kepada
ibunya. Juga ada kisah bagaimana Sukarno dididik oleh Bapaknya dengan keras. Nama
Sukarno sendiri didapat karena ia sering sakit-sakitan di masa kecil. Ada sejarah
bagaimana kemudian ia diberi nama Sukarno oleh bapaknya. Juga ada cerita
tentang cinta pertama dengan wanita belanda. Bagaimana Sukarno harus bersekolah
di sekolah Belanda. Namun Sukarno harus mengulang kelas karena tidak fasih
bahasa Belanda. Juga belajar selama satu jam setiap pagi dengan guru lesnya
Di usia
ke-15 tahun, Sukarno pergi ke Surabaya untuk melanjutkan sekolah. Di bab ini,
saya belajar sesuatu tentang mencintai makhluk Tuhan. Dan juga ada kebanggaan
karena Sukarno pernah tinggal di Mojokerto.
Bab IV. Dapur Nasionalisme
Di kota
Surabayalah Sukarno yang baru menginjak usia muda tahun berpetualang. Ia
tinggal dengan Tjokroaminoto yang merupakan pemimpin Sarekat Islam. Sukarno
tinggal di kamar gelap tanpa pintu. Di
Surabaya, Sukarno tidak mengalami masa senang. Karena alasan-alasan tertentu.
Dan ia mencari kesenangan dengan membaca. Di titik inilah Sukarno mulai
memasuki “Dunia Pemikiran”.
Di masa
ini Sukarno juga bertemu pemimpin-pemimpin politik dan terkadang mengajukan
pertanyaan. Dan setapak demi setapak Sukarno mulai mencintai tanah air.Juga ada
kisah penghinaan anak Belanda di sekolah. Sukarno bersekolah dengan cara yang
tidak mudah dan terkadang pulang dalam keadaan babak belur. Di Surabaya juga
tempat Sukarno mendapat ramalan akan menjadi orang besar. Dan tentu saja, itu
benar-benar terjadi.
Yang
paling menyenangkan, Sukarno menceritakan kisah cintanya dengan gadis Belanda.
Sayangnya, ketika ia melamar gadis pujaannya, hanya penolakan dan hinaan yang
diperoleh Sukarno. Pada akhirnya Sukarno menikah di usia 21 tahun dengan putri
Tjokroaminoto. Selanjutnya, Sukarno ingin melanjutkan sekolah ke Belanda. Namun
akhirnya tidak jadi karena tidak mendapat restu ibunya dan melanjutkan ke
Bandung.
Bab V. Gerbang Ke Dunia Putih
Di
bandunglah tempat di mana Sukarno mulai menggunakan peci dan kemudian menjadi
simbol pejuang kemerdekaan beberapa puluh tahun kemudian. Di bandung pula
Sukarno melanjutkan pendidikan dengan 10 orang Indonesia diantara orang
berkulit putih berambut merah. Namun, Karena suatu alasan, Pak Tjokro dianggap
dalang dibalik pemogokan buruh dan ditangkap Belanda. Sebagai menantu, Sukarno
terpanggil untuk membantu keluarga mertuanya, Memutuskan berhenti kuliah dan
bekerja sebagai klrek di stasiun kereta api dengan gaji 165 rupiah sebulan
untuk memenuhi kebutuhan keluarga Pak Tjokro.7 Bulan kemudian Pak Tjokro
dibebaskan dan Sukarno kembali kuliah. Lalu akhirnya ia mengembalikan Utari ke
Pak Tjokro tanpa mengaulinya sedikit pun selama masa 2 tahun pernikahan. Lalu
Sukarno menikahi wanita yang lebih tua, namun menjadi pendamping yang sesuai
untuk Sukarno, Inggit.
Bab VI. Marhaenisme
Di bab
ini Sukarno menceritakan mengenai pemikirannya dan menemukan paham Marhaenisme.
Nama itu diambil dari nama petani yang ditemui Sukarno dan mengilhami
pemikirannya. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktik. Di bagian
ini Sukarno juga menceritakan tentang pidato pertamanya di lapangan yang
dihadiri ribuan orang. Pidatonya dihentikan dan sejak saat itu, nama Sukarno di
blacklist oleh Pemerintahan Belanda.
Diceritakan
pula bagaimana Sukarno akhirnya berhasil menyelesaikan studinya dan mendapatkan
gelar. Meskipun pernah mendapat nilai 3 atau pun melakukan “gotong royong”
dengan sesama pemuda Indonesia dalam setiap ujian. Ketika lulus, Sukarno
mengingat kata-kata Presiden universitas, “Ir. Sukarno, ijasah ini dapat robek
dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa
satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari
seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati. “
Bab VII. Bahasa Indonesia
Selepas
lulus, Sukarno menolak pekerjaan kepadanya. Karena ia tidak sudi bekerja untuk
kepentingan Belanda. Sukarno hanya pernah mengerjakan sebuah rumah saja. Itu
pun karena hal tersebut merupakan permintaan seorang professor yang
dihormatinya. Karena sudah tidak punya uang, maka Sukarno menjadi guru. Walau
untuk mendapatkan pekerjaan itu ia harus berbohong. Situasinya sedang sulit
kala itu.
Di bab
inilah Sukarno mulai mendapatkan pengikut. Berpidato dengan siapapun yang
ditemuinya. Ia juga matang dengan pemikiran-pemikirannya sendiri dan memiliki
ideologi politik yang berbeda. Akhirnya ia mendirikan perkumpulannya sendiri.
Dan studi klub itu tumbuh di solo, Surabaya, dan Kota lainnya di Indonesia.
Kemudian menerbitkan majalah perkumpulan – Suluh Indonesia Muda. Dan Ketua
Sukarno adalah penyumbang tulisan pertama.
Bab VIII. Mendirikan P. N. I
Di bab
inilah Bung Karno mendirikan PNI setelah Serikat Islam terpecah. Dan PNI
menjadi satu-satunya partai politik. Tujugan PNI membuat pengikutnya gemetar :
Kemerdekaan sekarang. Tahun 1928 adalah tahun propaganda. PNI bergerak. Dan di
masa inilah Bung Karno mendapat julukan “Singa Podium”. Diceritakan pula
beberapa pro dan kotra di dalam PNI. Mulai dari pemakaian seragam hingga
memasukan pelacur sebagai anggota PNI sekaligus menjadi mata-mata. Lagipula
pelacur adalah anggota PNI yang selalu punya uang dan memberikan hasil gilang
gemilang. Walaupun di masa ini Sukarno sudah diakui sebagai pemimpin, namun
kondisinya masih tetap melarat. Baginya kemiskinan bukanlah sesuatu yang patut
dimalukan. Di bab ini Anda akan sedikit tersentuh dengan perjuangan para
pahlawan di tengah kemiskinan, namun tetap memimpikan kemerdekaan.
Bab IX. Masuk Tahanan
Di masa
ini, beberapa tokoh yang dianggap berbahaya oleh Pemerintah Belanda akan
berakhir dengan penjara. Sukarno pun sudah menyadarinya bahwa cepat atau
lambat, ia akan mendapatkan gilirannya. Bagian mengerikannya, nasib pejuang
sangat memprihatinkan. Bahkan disebutkan bahwa ada dari 300 orang, yang selamat
hanya 4 orang saja. Ada pula yang langsung digantung. Di suatu pagi setelah
rapat, giliran Sukarno pun tiba. Ia pun ditangkap Belanda. Dan Sukarno pun
berakhir di Rumah Penjara Banceuy.
Bab X Penjara Banceuy
Banceuy
adalah penjara tingkat rendah. Didirikan di abad kesembilan belas, keadaanya
kotor, bobrok, dan tua. Usut punya usut, disebutkan bahwa penangkapan Sukarno
sudah direncanakan selama berbulan-bulan. Di saat bersamaan, ribuan orang
ditangkap. Termasuk 4 tokoh PNI.
Di bab
ini, Sukarno banyak menceritakan pengalaman pahitnya selama ditahan di penjara
Banceuy. Bahkan ia sempat berpikir rasanya lebih baik mati. Di penjara ini
terdapat orang-orang Indonesia yang bekerja sebagai sipir. Dan melalui merekalah
Sukarno berkomunikasi dengan dunia luar. Ada juga Bos Penjara yang bisa disuap.
Tapi tetap saja, di penjara ini, hiburan bagi Bung Karno hanya sebuah permainan
mendengarkan kawannya menceritakan kembali kisah Mahabarata dan Ramayana, yang
mana membuat perasaannya ringan dan memberi kekuatan.
Bab XI. Pengadilan
Sukarno
menolak untuk dibela secara hukum oleh pengacara. Ia berniat membela dirinya
sendiri. Sebelum pengadilan diadakan, di dalam penjara, beralaskan kaleng
tempat buang air, Sukarno menyusun pembelaannya yang dikenal sebagai Indonesia
Menggugat yang berisi penderitaan rakyat Indonesia akibat penghisapan selama
tiga setengah abad di bawah penjajahan Belanda.
Di
pengadilan Sukarno dituduh melanggar pasal-pasal penyebar kebencian atau
mengambil bagian dari organisasi yang mempunyai tujuan menjalankan kejahatan
disamping… usaha menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Sayangnya, Sukarno
kalah dan dijatuhi hukuman paling berat, yakni 4 tahun penjara. Ia ditempatkan
di penjara Suka Miskin.
Bab XII. Penjara Sukamiskin
Di
Sukamiskin Sukarno dipekerjakan untuk membuat garis di percetakan. Ia juga
diawasi dan dibatasi agar tidak membicarakan soal-soal politik dengan manusia
lainnya.Namun tetap, Sukarno tetap bisa mengakali semuanya dan menerima
kabar-kabar dari luar melalui cara-cara tertentu. Di bab ini… Sukarno
menceritakan kehidupan di dalam penjara. Putera Sang Fajar berada di lingkungan
yang tidak seharusnya ia berada.
Menurut
pengakuannya, Sukarno berkembang di dalam penjara. Ia juga mulai mendalami Islam.
Namun karena tulisan Sukarno dalam Indonesia Menggugat, banyak protes dari ahli
hukum di seluruh eropa. Dan hukuman diubah menjadi dua tahun. Ketika keluar
dari penjara, Sukarno menjawab pertanyaan Direktur penjara dengan jawaban,
“Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk
memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang
sama.”
Bab XII. Keluar dari Penjara
Setelah
keluar, Sukarno mengucapkan pidato paling terkenal menurutnya. DI bab inilah terjadi
dialog antara Bung Karno dan Bung Hatta. Karena keduanya berselisih paham
mengenai cara mendapatkan kemerdekaan. Namun tidak ada kesepakatan dan keduanya
tetap meyakini cara masing-masing. Setelah keluar dari penjara, Sukarno tidak
berubah. Ia tetap berpidato kesana-kemari seperti biasanya.
Bab ini
Sukarno menceritakan pengalaman-pengalamannya. Tentang pekerjaan, kekurangan
uang, menjadi pemimpin partai Partindo, hingga ketika mendapatkan
pakaian-pakaian yang bagus.Namun Sukarno masih orang yang sama. Dan pada
akhirnya, ia kembali ditangkap oleh Belanda karena dianggap terlalu berbahaya.
Bab XIV. Masuk Kurungan
Sukarno
kembali masuk Sukamiskin. Hanya saja kali ini ia ditempatkan di sel khusus,
dibuat di tengah-tengah ruangan besar yang telah dikosongkan. 8 bulan lamanya
sukarno hidup seperti pertapa yang bisu. Pada akhirnya, hukuman yang menanti
adalah pembuangan. Sebelum di buang Sukarno sempat bertemu kedua orang tuanya
setelah sekian lama. Dan mungkin saja, ini pertemuan yang terakhir. 8 hari
kemudian, Sukarno sampai di Pulau Bunga, pulau yang terpencil.
Bab XV. Pembuangan
Kampung
itu bernama Endeh, penjara terbuka bagi Sukarno. Saat di pengasingan inilah
mertua Sukarno meninggal di pelukannya. Juga berita kematian Pak Cokro juga
sampai. Di sinilah Sukarno merasa sedih, namun ia berusaha menyembunyikannya
agar Inggit tidak ikut menderita melihatnya menderita karena jauh dari
cita-citanya.
Bab ini
cukup panjang. Sukarno menceritakan bagaimana ia hidup di pengasingan. Tentang
takhayul, menulis cerita sandiwara, bergaul dengan penduduk setempat, hingga
memikirkan masa depannya tentang revolusi. Di tempat ini juga Sukarno mendekati
kematian karena menderita malaria. Di sini saya banyak belajar tentang
pengorbanan. Menjadi kayu yang ikut terbakar untuk api. Dan tentu saja,
bagaimana saya memikirkannya, tetap saja saya merasa tidak mampu menjadi
seperti Sukarno.
Bab XVI. Bengkulu
Sekitar 5
tahun Sukarno berada di Pulau Bunga ketika ia sakit malaria. Hari itu sekitar
Februari 1938 ketika ia dapat kabar akan dipindahkan ke Bengkulu. Setelah
dipindahkan, Sukarno mendapat penolakan. Orang-Orang di kota tidak suka
perubahan ketika sukarno membuat rencana mendirikan masjid. Akhirnya, Sukarno
menjadi guru di Muhammadiyah. Di bab ini diceritakan tentang Fatmawati. Di bab
inilah diceritakan bagaimana Fatmawati tumbuh besar dan Sukarno ingin
memperistrinya. Namun Inggit tidak setuju. Juga fakta bahwa menceraikan Inggit
akan meruntuhkan Sukarno dalam bidang politik. Biar bagaimana pun, Inggitlah
yang telah menemaninya selama berpuluh-puluh tahun dalam pengasingan. Sebelum
diperoleh suatu keputusan mengenai Fatmawati, Jepang menyerang Sumatra pada 12
Februari 1942.
Bab XVII. Pelarian
Belanda
tetap menahan sukarno ketika Jepang datang di Bengkulu. Bab ini menceritakan
perjalanan Sukarno menuju Padang sebelum akhirnya diberangkatkan ke Australia. Sebelum
pergi, Sukarno masih sempat menemui Fatmawati dan mengucapkan harapannya. Namun
sebelum tiba di kapal yang akan membawanya, kapal itu telah meledak. Akhirnya
Sukarno bebas dari pasukan Belanda yang mengawalnya.
Setelah 9
tahun tidak berpidato, Sukarno kembali berpidato. Sukarno membentuk Komando
Rakyat yang bertugas sebagai pemerintah sementara. Perintah pertama Sukarno
saat itu adalah tidak melawan terhadap tentara Jepang. Dan Jepang dengan cepat
menguasai Padang dengan tank-tank, kereta berlapis baja, dan bala tentara
berjalan kaki.
Bab XVIII. Jepang Mendarat
Akhirnya
Jepang tiba di Indonesia. Tepatnya di daerah Sumatra. Tentara Belanda melarikan
diri dan meninggalkan rakyat Indonesia tanpa perlindungan. Awalnya, rakyat
menganggap Jepang sebagai pahlawan yang mengusir Belanda. Namun tak lama
kemudian, Jepang melarang bendera Indonesia berkibar dan hanya boleh ada
bendera Jepang.
Di bab
inilah terjadi kejadian bersejarah di mana Bung Karno dan wakil Jepang saling
menjanjikan suatu hal satu sama lain.Jepang tahu bahwa Bung Karno dekat dengan
rakyat sehingga meminta bantuan agar tidak terjadi kerusuhan. Selanjutnya, Bung
Karno mengatur semua permasalahan yang dihadapi Jepang. Karena ini juga jalan
dalam merebut kemerdekaan Indonesia yang sudah lama diimpi-impikan.
Bab XIX. Pendudukan Jepang
Panglima
tertinggi tentara pendudukan yang bermarkas di Jakarta memerintahkan para
pemimpin bangsa Indonesia membentuk suatu badan pemerintahan sipil, tetapi itu
tidak akan terjadi tanpa Bung Karno.Setelah itu, perintah militer menyuruh
mendatangkan Bung Karno. Setelah melalui perjalanan melelahkan dari Sumatra ke
Pulau Jawa, setelah 13 tahun pergi, akhirnya Sukarno kembali lagi.Dan keinginan
Bung Karno ketika baru datang adalah memiliki Jas Baru buatan DeKoning.Sukarno
pun tinggal di Jakarta, di rumah besar bekas milik orang Belanda dan kembali
berjuang bersama pemimpin lainnya.
Bab XX. Kolaborator atau Pahlawan
Meskipun
di masa lalu Bung Karno dan Bung Hatta pernah berselisih paham, pada akhirnya
keduannya bekerja sama. Bung Karno bekerja secara terang-terangan dan Bung
Hatta bekerja secara rahasia. Hanya ada Sharir yang menyaksikan rencana untuk
masa depan tersebut.
Lalu
terbentuklah Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dan Sukarno menjadi ketuanya. Melalui
Putera lah Sukarno memberikan seruan-seruan kepada rakyat. Sukarno juga mulai
berpidato lagi. Menumbuhkan nasionalisme dan memanfaatkan pemerintahan Jepang
untuk kepentingan Indonesia. Sukarno juga terlibat dalam upaya-upaya
menyelamatkan orang-orang penting supaya tidak dihukum mati oleh Jepang. Di bab
inilah diceritakan perjuangan sambil memanfaatkan situasi dari keadaan
pemerintahan Jepang.
Bab XXI. Putraku yang Pertama
Pada
akhirnya, hubungan Sukarno dan Inggit tidak bisa diteruskan. Mereka bercerai. Pada
Juni 1943, Fatmawati dan Sukarno akhirnya kawin. Di usia ke 43 tahun, akhirnya
Sukarno bergembira karena Tuhan yang Maha Pengasih mengarunia seorang anak,
Selesai.
Bab Kalimat Terbaik.
Filsuf
India, Swami Vivekanda, Perna menulis “Jangan bikin kepalamu mejadi
perpustakan, Pergunakan pengetahuanmu untuk diamalkan” Aku menerapkan semua
yang telah kubaca kepada apa yang kudengar. Aku menarik perbandingan anatara
peradalam -peradaban yang megah dalam pikiranku dan negriku yang malang.
Setahap
demi setahap aku menjadi patriot yang tangguh, Yang menyadari bahwah seorang
pemuda indonesia tidak boleh lagi larut dalam kesenangan dengan melarikan diri
dari dunia khayalan. Aku mendapati kenyatan bahwah negeriku miskin, malang,
terhinakan.
Aku
sering berjalan-jalan seorang diri untuk mencoba merenukan apa yang bergejolak
dalam otakku. Satu jam lamanya aku berdiri diatas jembatan yang dilintasi
sebuah sungai kecil dan memandaingi iringan-iringan manusia yang tidak ada
habis-habisya. Aku melihat pak tani dengan kaki terlanjang berjalan lesu menuju
gubuknya yang kumuh, Dan aku melihat belanda si penjajah duduk kaku di atas
kereta terbuka yang ditarik kuda yang gagah berwarna abu-abu. Aku meliahat
keluarga orang kulit putih tampak bersih sementara saudara mereka yang berkulit
sawo matang begitu kotor, berbau tidak sedap , baju mereka compang camping
sedangkan anak mereka tampak dekil. Aku bertanya dalam hati apakah orang bisa
tetap bersih apabila mereka tidak punya pakaian lain untuk gantianya.
Aku
menghisap bau amis dari sampa yang telah membusuk dan got yang mempet, dan aku
tidak bisah menghilangkan bauk busuk dari kemeraratan rakyatku di lubang hidungku, hinga sekalipuan aku
berada 10.000 kilometer jauhnya aku masih tetp mencium bauknya, aku merasakan
keputusasaan pada setiap laki-laki dan
perempuan yang kulihat. Aku larut di trengah rakayatku, rakyatku yang melarat.
Kekurangan Buku : Bung Karno Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia
Ini buku
biografi pertama yang saya tuntaskan. Dan menyangkut sebuah biografi, tidak ada
yang bisa dinilai karena hal ini menyangkut pengalaman pribadi seseorang. Mungkin
ada banyak privasi yang tidak diceritakan. Meskipun demikian, saya cukup senang
pernah membaca secuil kehidupan salah satu tokoh proklamator Indonesia ini.
Satu-Satunya
yang membuat saya kurang nyaman ketika menikmati buku ini adalah masih banyak
ejaan yang belum disempurnakan. Alangkah baiknya jika penulisannya disesuaikan
dengan Ejaan Bahasa Indonesia.
Kelebihan Buku : Bung Karno Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia
Membaca
buku ini rasanya nano-nano. Perasaan saya sering campur aduk. Tapi buku ini
mampu membangkitkan rasa Nasionalisme saya. Ketika mengikuti kehidupan Sukarno
dan mendapati dirinya banyak berkorban untuk Indonesia, sudah sepatutnya
generasi penerus meneruskan perjuangan para pahlawan. Di buku inilah saya
temukkan sedikit pencerahan tentang nasionalisme. Sejujurnya saja, saya pernah
bermasalah dengan rasa itu. Dan mungkin saja, buku ini bisa menyembuhkan luka
saya dan mulai belajar mencintai Indonesia seperti dulu lagi.

0 Komentar